Motorku sayang, STNK ku malang

Sebenarnya cerita kali ini kurang mengenakan tapi buat sharing juga ya. Sesuai judulnya motorku sayang, stnk ku malang yaa stnk ku yg malang karena harus nginep di kantor polisi alias kena tilang. Sebenarnya yang kena tilang bukan saya tapi anak PKL.  Kejadiannya 2 minggu yg lalu, dihari jumat. Anak PKL dikantor, sebut saja dia Budi (ceritanya nama disamarkan gitu hehe). Hari itu hari terakhir dia magang di kantor. Intinya dia berbuat kesalahan karena tidak membawa STNK, alhasil dia kena tilang di daerah Sumarecon, Bekasi. Dan Budi lagi pinjem motor saya, jadinya STNK saya harus ditahan selama 2 minggu.

Setelah dapet kabar dari Budi bahwa dia habis kena tilang dan motor saya juga sempet ditahan di TKP. Akhirnya saya ditemani HRD kantor, kita datang ke TKP buat ambil motor saya dan siapa tau masih bisa nego gitu hehe. Suasana di TKP rame, banyak polisinya. Banyak juga mobil dan motor yang kena tilang. Jadi memang sepertinya lagi ada operasi zebra di daerah tersebut. Dan setelah ngurus tetek bengeknya, akhirnya saya dapet juga surat cinta berwarna biru dari Pak Polisi alias surat tilang. Yang bikin tambah syok jumlah denda yang tertulis di surat tilang yaitu Rp 1.000.000,- (sejuta ciin) untungnya Pak Boss yang baik hati mau menebus denda tilang tersebut. Terima kasih Pak Boss.

tilang

Dan akhirnya hari ini tiba juga. Pagi-pagi sebelum ke kantor, saya datang ke polres untuk sidang. Saya sengaja datang pagi agar tidak terlalu mengantri. Kebayang kan di hari kedua puasa ramadhan, saya harus datang untuk sidang tilang. Awalnya saya ketemu dan tanya-tanya ke polisi yang lagi standby diluar tentang proses urus tilang. Pak polisi tersebut melihat surat tilang saya dan bertanya pelanggaran apa yang saya lakukan. Setelah saya ceritakan semuanya, polisi tersebut meminta nomer briva yang didapatkan dari sms bank BRI ke no orang yang ditilang/nama yang tertera di surat tilang. Nah, masalahnya nama yang tertera di surat tilang adalah Budi dan si Budi ini susah banget untuk dihubungi. Nomer briva itu semacam nomer rekening yang digunakan untuk membayar denda kita ke bank BRI. Akhirnya saya putuskan untuk tanya ke polisi yang lain siapa tau ada solusinya. Akhirnya Pak polisi tersebut menyuruh saya untuk membuka link www.etilang.info lalu masukan nomer blangko/register yang ada disurat tilang. Alhamdulilah dapet juga no brivanya. Setelah itu saya segera ke bank BRI sesuai arahan Pak Polisi untuk membayar denda saya.

Setelah sampai di bank BRI, saya isi form untuk pelanggar tilang ada 2 lembar gitu. Untung masih sepi banknya jadi tidak terlalu lama mengantri. Sampai juga giliran saya untuk membayar dan petugas teller bertanya apakah saya mau membayar denda sesuai pelanggaran saya atau denda maksimal yang tertera di surat tilang alias yang sejuta itu. Kalau saya membayar sesuai denda maksimal kembaliannya harus saya proses lagi dihari lain. Jadi saya putuskan untuk balik lagi ke polres untuk melihat denda pelanggaran saya karena pikir saya kalau mau repot yaudah repot aja sekalian, gak perlu nunggu sampai besok-besok.

Form Bukti Pembayaran
Form Bukti Pembayaran

Setelah saya sampai di kejaksaan, saya langsung menuju ke papan pengumuman. Hhmm, lumayan banyak juga yang lagi lihat-lihat papan pengumuman, kayak lagi lihat pengumuman kelulusan hehe. Karena hari ini yang sidang banyak, jadi harus teliti untuk mencari nama dan jumlah denda kita. Akhirnya ketemu juga dan jumlah denda yang harus saya bayarkan hanya Rp 250.000,- dari jumlah maksimal Rp 1.000.000,-

Balik lagi saya ke BRI untuk membayar dendanya dan ternyata udah banyak yang antri untuk bayar denda tilang juga. Setelah antri cukup lama akhirnya tiba giliran saya dan saya langsung membayar jumlah denda yang harus saya bayarkan. Dan saya mendapatkan kwitansi pembayaran denda.

Setelah itu saya kembali lagi ke kejaksaan untuk proses selanjutnya yaitu menyerahkan surat tilang,  kwitansi pembayaran denda dan fotocopi KTP (jika kalian membayar denda sesuai jumlah maksimal untuk mendapatkan slip pengambilan kelebihan pembayaran denda). Dan saya mendapat no antrian 154, whuuuhh.. Panas, haus, dan sedikit pengap itu yang saya rasakan disana.

Screenshot_12

Sambil menunggu no saya dipanggil, saya kenalan dengan banyak orang sambil bertukar cerita proses tilang yang menurut mereka kurang cepat penanganannya. Ternyata yang bolak balik gak cuma saya hehe. Banyak juga yang mengeluhkan proses urus tilang sekarang agak ribet. Apalagi buat mereka yang membayarkan jumlah denda maksimal karena ya itu mereka harus urus lagi kembalian uang mereka di hari yang telah ditentukan oleh petugas. Setelah cukup lama menunggu akhirnya no saya dipanggil dan akhirnya saya mendapatkan yang sudah saya rindukan yaitu STNK saya hehe.

Buat pengalaman saya juga. Begini toh rasanya ikut sidang tilang karena baru pertama ini saya ditilang dan ikut sidang tilang. Semoga besok-besok gak kena tilang lagi. Karena selain ribet ngurusnya, uangnya kan masih bisa digunakan untuk hal yang lebih penting lagi. Jadi kita harus lebih disiplin dan taat lagi. Jangan cuma karena ada polisi kita taat peraturan. Karena peraturan dibuat bukan untuk dipuji polisi melainkan untuk keamanan dan keselamatan si pengendara juga. Sekian dulu tulisan saya kali ini semoga bermanfaat dan membantu kalian yang lagi mau urus surat tilang kalian.

Berhati-hati itu Penting

Minggu kemarin melihat kejadian yang lagi-lagi mengingatkan kita untuk fokus dan hati-hati di jalan apalagi ketika sedang berkendara. Iya, pas mau berangkat ke kantor tepatnya di daerah Rawa Panjang, Bekasi  ada truk yang membawa batu terguling di belokan lampu merah. Pas saya lihat sih posisinya udah jatuh dan isinya yaitu seperti batu kapur udah berserakan dimana-mana. Lumayan bikin macet karena memang posisi jatuhnya truk ada ditengah-tengah. Entah karena supir ngantuk, jalanan licin atau memang karena muatannya yang  terlalu berat  sehingga truk bisa jatuh. Saya sih gak lihat ada supirnya disana, cuma ada beberapa polisi di TKP. Ya semoga tidak ada korban jiwa atas kejadian ini.

Jadi ingat tahun lalu, waktu itu saya dan kakak saya sedang naik motor mau kearah Kemang, Bekasi. Waktu itu jalanan macet banget. Biasanya kalau weekend jalanan memang macet tapi saat itu lebih macet lagi. Biasanya kalau naik motor masih bisa selap selip tapi kali ini merayap. Sempat ngedumel sendiri sih karena macet dan panas. Sampai akhirnya saya tahu kalau ternyata ada yang kecelakaan. Dia pengendara motor juga.  Dan saya lihat sendiri karena korbannya masih di TKP dengan posisi tengkurep dan helm masih menempel di kepalanya.  Tapi darahnya udah berceceran. Saya tidak yakin kalau dia masih selamat, karena memang kondisinya cukup parah. Gemeteran saya ngelihatnya, sampai sekarang saya tulis cerita ini, saya juga jadi gemeteran sendiri. Saat itu yang ada dipikiran saya antara takut, sedih dan kasihan. Entah seperti apa reaksi keluarganya kalau tahu kejadian ini. Saya jadi berpikir sendiri jika saya ada di posisi keluarga korban, sehisteris apa saya jadinya.

Sebenarnya banyak kejadian di jalan yang membuat kita harus berhati -hati lagi oopss lebih ekstra hati-hati lagi dan juga fokus dengan sekitar. Kenapa? Karena mungkin kita sudah hati-hati dan fokus tapi pengendara lain belum tentu kan. Mungkin juga kita jatuh karena kecerobohan pengendara lain. Banyak himbauan-himbauan di jalan seperti ‘Keluargamu Menantimu’ atau ‘Mengantuk, Istirahat dulu’ tapi kita hanya sekedar membaca lalu cuek lagi, tak sedikit pula yang mengabaikan himbauan itu. Padahal himbauan itu dibuat untuk mengingatkan kita bukan hanya sekedar menjadi tulisan. Semoga tulisan saya ini bisa mengingatkan kita lagi betapa pentingnya berhati-hati. Bukan bermaksud menggurui hanya sekedar berbagi, guys.

Antara Aku dan kereta itu

Assalamualaikum

Pernah gak kamu nyebrang ditungguin kereta??

Itu terjadi sama saya loh. Begini ceritanya.

KAI
sumber : google

Sebelumnya saya mau sharing sedikit yang melatarbelakangi saya ingin buat blog salah satunya motivasi dari atasan saya (Pak Boss), beliau sering memberikan sarapan batin sebelum kita mulai kerja, seperti bahwa amalan yang akan kita bawa sampai akhirat ada 3 macam yaitu:

  1. Anak yang berbakti kepada orang tua
    Pak Boss bilang kalian sudah merasa jadi anak yang berbakti kepada orang tua?
  2. Sedekah
    Pak Boss bilang kalian suka sedekah? Ikhlas gak?
  3. Ilmu yang bermanfaat untuk dibagikan ke orang lain. Setidaknya kalau kita gak punya uang untuk dibagikan, kita punya ilmu yang bisa kita berikan kepada orang lain yang insyaallah jadi ladang amal buat kita. Aamiin.

Motivasi itu yang selalu pak boss ingatkan ke kita yang langsung “jleb” kena dihati terus mikir ‘bener juga ya’.

Oia kembali ke cerita ya..

Rute PP rumah – kantor kan memang harus melintasi rel kereta api. Jadi waktu itu jam pulang kantor, seperti biasa kena macet di pelintasan rel kereta karena ada kereta mau lewat. Agak lama tuh nunggunya. Setelah 2 kereta lewat akhirnya palang keretanya kebuka juga tapi alarm keretanya masih bunyi. Akhirnya para pengendara motor termasuk saya mulai bergerak maju, belum juga saya nyebrang saya lihat ada kereta, jalannya pelan sih dan akhirnya berhenti tuh kereta. Saya sempat kaget terus gak sadar keceplosan ngomong ” loh, loh ko ada kereta?”.

Sempat ragu sih mau lanjut nyebrang apa berhenti nih, tapi berhubung kereta berhenti dan antrian belakang klaksonin terus akhirnya saya nekat nyebrang juga sambil terus perhatiin kereta takut keretanya bergerak maju bisa gawat kan. Gak sempet perhatiin sih keretanya apa tapi kayaknya KRL gitu. Mungkin karena yang nyebrang kebanyakan jadinya macet dan lama akhirnya si kereta klaksonin kenceng. Kaget juga sih, untungnya saya sudah nyebrang dengan selamat. Menegangkan tapi lucu juga sih, biasanya kan kita yang nungguin kereta, ini kereta yang nungguin kita hehehe. Tapi tetap kita juga harus hati-hati.

Segitu dulu cerita saya kali ini, semoga bermanfaat, menghibur dan bisa menjadi ladang amal buat saya. Aamiin.

Wasallam.