Jalan Malam di Kediri

Selasa, 17 Maret 2020

Hari ini saya akan meninggalkan Kota Malang. Setelah 3 hari disini, berat juga rasanya meninggalkan kota ini. Kota yang memiliki banyak pesona. Sungguh tak kan terlupakan. Akibat corona kabarnya Kota Malang juga akan menutup semua tempat wisata. Dan menutup akses masuk keluar Malang. Penjagaan di Stasiun Malang juga mulai diperketat.

Saya akan berpindah lagi ke Kota lain. Masih didaerah Jawa Timur juga. Kota yang terkenal dengan tahu dan sambal tumpangnya. Yaitu Kediri. Semoga di kota ini semua akan baik-baik saja. Saya menggunakan kereta api untuk menuju kota ini. Sekitar 3 jam perjalanan ditempuh.

Suasana didalam kereta

Kota Kediri adalah sebuah kota yang terletak di Jawa Timur. Kota terbesar ketiga di Jawa Timur setelah Surabaya dan Malang.

Saat saya tiba ke kota ini, hujan sedang mengguyur kota ini. Alamat saya tidak bisa kemana-mana. Hujan mengguyur kota Kediri dari siang sampai sore. Hanya bisa berdiam diri di penginapan. Rencana hari ini gagal.

Akhirnya saat hujan sudah mulai reda. Saya langsung mengunjungi masjid agung Kediri. Sembari cari makanan di sekeliling alun-alun. Masjidnya luas, sepertinya sedang direnovasi. Masjid Agung Kota Kediri yang beralamat di jl. Panglima Besar Sudirman No.160 Kp. Dalem, Kec. Kota Kediri, Kota Kediri Jawa Timur, Indonesia. Masjid Agung Kota Kediri ini dilengkapi dengan satu bangunan menara yang menjulang tinggi berada di sisi tenggara bangunan masjid dan sisi selatannya juga terdapat gedung perpustakaan masjid.

Sayangnya alun alun Kota Kediri sepi dan gelap. Hanya diterangi lampu-lampu dari pedagang yang ada disekitarannya.

Saya memutuskan jalan di sekitaran Jl. Dhoho sampai Jl. Yos Sudarso ingin mencari street food khas Kediri, tapi sepanjang jalan hanya menemui tukang nasi goreng, mi ayam, nasi pecel. Akhirnya berujung ke mie godog hehe. Hujan-hujan makan mie godog. Cocok.

Ternyata porsi mi godog Kediri banyak sekali dan harganya murah. Potongan ayamnya besar, lalu ada adonan tepung yang digoreng kalau tidak salah namanya kekian. Jadi teringat info dari abang grab, kalau porsi nasi goreng di Kediri lebih banyak dari Kota lainnya.

Tapi selama saya di Kediri, saya banyak menjumpai kendaraan yang sudah jarang ditemui di Bekasi yaitu becak. Dan jalanan yang ada di Kediri masih khas jalanan Kota Jawa. Jadi teringat kampung halaman.

Sehabis makan saya putuskan untuk pulang ke penginapan mengingat hari sudah semakin malam. Menyusun rencana untuk besok. Semoga besok cuacanya cerah.

4 Replies to “Jalan Malam di Kediri”

  1. Wiiih, mangstaabs. Apa cuma saya doang yang ngga tau mana arah barat, timur, selatan dan utara bahkan tenggara? Kecuali setelah masuk mesjid/mushola dan tau ke arah mana kiblatnya. Dari situ baru tau patokan buat nentuin mana arah barat, timur, utara dan selatan. Heheheh

Tinggalkan Balasan ke NA Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *