Dari Sejarah Sampai ke Religi

Jumat, 13 Maret 2020

Masih di Surabaya. Sudah saya susun rencana saya hari ini. Semoga bisa terlaksana semua. Semalam saat saya naik gocar ke Taman Bungkul, saya banyak tanya ke supirnya tempat wisata apa saja yang wajib dikunjungi di Surabaya. Dan info darinya kalau di Surabaya lebih terkenal dengan museum, taman dan wisata religinya.

Ada Museum Siola, kapal selam, 10 november, dll. Dan untuk wisata religinya ada Masjid Sunan Ampel dan Masjid Cheng Ho. Sebelumnya memang sudah saya rencanakan akan pergi kesana. Jadi semakin excited untuk bisa pergi kesana.

Awal perjalanan saya putuskan untuk pergi ke Museum Siola.  Masuk ke museum ini langsung disuguhkan dengan foto-foto pejabat yang pernah menjadi Walikota Surabaya. Dimulai dari tahun 1916-sekarang. Tidak hanya itu saja, didalam museum ini juga terdapat alat transportasi, pakaian adat, benda dan alat bersejarah bagi Kota Surabaya. Penghargaan yang pernah didapatkan Surabaya. Dan juga serba serbi tentang Surabaya. Ada juga karya-karya dan tokoh terkenal dari Surabaya contoh WR Supratman dan Gombloh. Museum ini letaknya didalam Mall Pelayanan Publik. Jadi museum ini ramai pengunjung. Untuk masuk ke museum ini kita tidak usah bayar alias gratis.

Foto Walikota Surabaya 1916-sekarang

Penghargaan untu Kota Surabaya
Karya tokoh terkenal

 

Setelah dari Museum Siola, saya pindah ke Museum 10 November dan Monumen Tugu Pahlawan. Halaman museum ini lebar dan luas. Saat masuk kehalamannya langsung di sambut oleh patung Presiden dan wakil Presiden pertama RI yaitu Bapak Soekarno dan Bapak Moch Hatta. Museum ini berhadapan dengan kantor gubernur Jawa Timur. Di museum ini berisikan tentang pahlawan-pahlawan yang berjuang untuk Indonesia. Seperti belajar sejarah lagi. Didalam museum ini juga ada ruangan diorama statis. Ruangan ini berisikan etalase yang didalamnya ada miniatur dan layar screentouch yang jika kita sentuh akan menceritakan peristiwa yang terjadi secara visual dan audio. Untuk masuk ke museum ini dikenakan biaya sebesar Rp5000. Saat saya berkunjung kesini berbarengan dengan anak anak SMP yang sedang study tour. Jadi saya tidak kesepian deh didalam museum. Bahkan berasa jadi guru diantara mereka hehe.

 

Lanjut dari wisata sejarah, kita ke wisata religi. Masjid pertama yang saya kunjungi di Surabaya adalah Masjid Cheng Ho. Masjid bernuansa muslim tionghoa ini berada di daerah Ketabang. Terlihat dari bentuknya  sekilas mirip klenteng yang didominasi warna merah dan hijau. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan nama masjid ini merupakan bentuk penghormatan pada Cheng Ho, laksamana asal Cina yang beragama Islam. Ia melakukan perjalanan ke Asia Tenggara dengan mengemban beberapa misi, diantaranya berdagang, menjalin persahabatan, serta menyebarkan ajaran agama Islam. Disamping masjid ada beberapa plakat berisi harapan dan doa dari para petinggi. Disisi lain ada bedug besar yang digunakan untuk menandakan waktu solat telah tiba.

 

Dari Masjid Cheng Ho kita lanjut ke Masjid Sunan Ampel. Masjid ini ramai didatangi para peziarah. Salah satu tempat yang paling ramai diziarahi oleh masyarakat adalah kompleks Makam Sunan Ampel. Masjid Sunan Ampel terletak di Jalan Petukangan, Semampir, Surabaya. Salah satu kelebihan kompleks Masjid Sunan Ampel adalah adanya air tanah yang bisa langsung diminum. Pengunjung atau peziarah ke kompleks Masjid Sunan Ampel banyak yang mengambil air yang sudah ditampung di dalam sejumlah gentong besar. Bahkan banyak di antaranya yang langsung meminum air tersebut. Didalam kawasan masjid ini, ada tempat berjualan kurma, kacang, peci, dll. Seperti di Tanah Abang Jakarta. Namanya Pasar Ampel.

Pasar Ampel

Sesudahnya saya mampir ke Pantai Kenjeran Lama karena ingin melihat air mancur menari. Tapi sayang pertunjukan air mancur hanya ada setiap weekend. Dan juga hujan mulai mengguyur Kota Surabaya, sehingga saya tidak terlalu lama berada disana. Untuk bisa masuk ke pantai ini perlu merogoh kocek sebesar Rp5000.

 

Waktunya culinary. Mengakhiri perjalanan dihari ini, saya mampir ke salah satu tempat makan yang terkenal di Surabaya yaitu sate klopo ondomohen Bu Asih yang terletak di jalan Walikota Mustajab, Ketabang. Sate klopo ini ada 2 pilihan daging, yaitu daging sapi dan daging ayam dengan campuran bumbu kacang, kecap, bawang dan cabe. Sesuai namanya sate ini diberi campuran serundeng. Menurut saya rasanya agak unik karena ada serundengnya, agak manis gitu. Tempat ini rame didatangi pengunjung.

Perjalanan mengelilingi Surabaya berakhir disini. Sebenarnya masih ingin mengitari kota ini lebih lama lagi. Namun masih banyak tempat yang harus saya kunjungi di kota lain. Beristirahat siapkan stamina untuk esok hari.

Sampai berjumpa lagi Surabayaku..

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *