Dibalik Banjir

Tak terasa sudah 2 minggu berlalu. Tahun baru yang diawali dengan genangan. Banjir yang menggenangi hampir sebagian wilayah di JABODETABEK. Termasuk di wilayah yang saya tinggali. Dampak banjirnya pun masih saya rasakan yaitu dengan banyaknya perabotan rumah yang harus dibenahi, tumpukan baju yang harus dicuci, puluhan buku dan berkas yang harus di keringkan. Tidak cukup sehari atau dua hari saja.

Dulu daerah rumah saya bukan daerah banjir, semenjak lahan kosong dekat rumah dibangun toko sehingga tidak ada tanah resapan lagi. Dulu banjir pernah memasuki rumah saya juga tapi hanya sampai ketinggian semata kaki. Kali ini adalah banjir terparah yang pernah saya alami. Kenapa? Banjir kali ini sampai mencapai ketinggian sepaha untuk didalam rumah dan seperut untuk diluar rumah. Yang mengharuskan saya dan orang tua harus mengungsi. Dan baru pertama ini kami mengungsi. Walaupun tempat pengungsiannya masih dirumah saudara sendiri, bukan pengungsian umum.

Lihat diberita tentang banjir semakin parah. Meyedihkan. Banyak barang-barang yang hanyut, mobilpun sampai terbawa arus. Ada juga yang harus diungsikan menggunakan perahu karet. Bahkan sampai memakan korban jiwa.

Yang namanya bencana pasti tidak enak. Tapi Insya Allah ada hikmah dibalik bencana tersebut. Seperti banjir ini. Kalau tidak banjir, kita suka malas membersihkan rumah sampai ke sudut-sudutnya. Karena banjir juga, saya jadi tahu bahwa banyak sekali baju atau barang lainnya yang sudah tidak digunakan tertumpuk dilemari. Yang seharusnya bisa lebih bermanfaat kalau digunakan oleh orang yang membutuhkan. Jadi bisa beramal juga ke orang lain.

Naluri dasar manusia itu sebenarnya penolong. Coba renungkan kalau ada bencana, hati kita pasti tergugah. Ingin menolong sesama. Ada yang menyumbang makanan, pakaian, obat-obatan, tenaga dll. Posko bantuan pun didirikan dadakan dan biasanya diisi penuh oleh sumbangan warga. Itu salah satu hikmah bencana juga kan.

Jujur ada satu kutipan khotbah jumat di salah satu masjid yang saya dengar yang membuat hati ini bergetar. Intinya bahwa kita jangan pernah menyalahkan nikmat Allah yang bernama hujan, banjir terjadi karena kelalaian kita dan teguran buat kita, seharusnya kita bisa introspeksi diri dan bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Semoga saya, kamu, kalian bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *