Pergi Untuk Kembali

Rabu 10 Oktober 2018, perjalanan saya menuju Yogyakarta. Bukan untuk liburan. Melainkan untuk menjenguk bulik saya (adik dari ayah saya) yang sedang sakit. Ayah saya ingin sekali menjenguk adik satu-satunya ini apalagi kondisi bulik saya yang sudah kritis.

Kabar terakhir yang saya dapat dari saudara di Yogya bahwa dokter sudah pasrah dan menyarankan untuk pihak keluarga menemani dan berkumpul. Karena kondisinya yang semakin drop. Awalnya hanya orang tua saya saja yang akan pergi namun saya tidak tega terlebih kondisi ayah saya juga kurang sehat. Akhirnya saya putuskan untuk meminta izin ke pak boss untuk tidak masuk.

Setelah ba’da magrib, kita semua pergi ke rumah sakit. Sudah ada beberapa saudara yang berkumpul disana. Semenjak ayah saya sakit, beliau jarang sekali berpergian jauh apalagi keluar kota. Rindu terhadap adiknya ini seperti memberikan kekuatan untuk ayah saya. Begitupun bulik saya. Respon-respon singkat ditunjukan bulik saya seperti mengisyaratkan bahwa dia pun rindu terhadap kakaknya ini.

Sudah agak malaman, kami pun pulang untuk beristirahat. Tak lama sesampainya dirumah, kami mendapatkan kabar yang kurang mengenakan. Kabar yang membuat kami syok. Kabar bahwa bulik sudah meninggal. Kami pun mengikhlaskan kepergiannya. Ini pasti yang terbaik yang Allah berikan untuknya.

Umur memang tidak ada yang tahu. Hidup ini terlalu singkat. Tidak ada yang abadi didunia ini. Kita cari ladang amal sebanyak-banyaknya untuk bekal diakhirat kelak. Selamat jalan bulikku sayang. Doaku untukmu bulik semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa mu dan menempatkan mu di surganya. Aamiin.

Screen Shot 2018-10-11 at 18.17.55
Sumber : Google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *